“gua baru putus”
“yang bener?!… bukannya kalian udah lamaran?”
“iya udah enggak cocok.”
Semua temen hampir enggak percaya, mengingat hubungan mereka sudah 5 tahun lamanya. Ya. Memang tidak ada yang tidak mungkin. Orang yang kawin aja bisa cerai, kan.
Gua pun mengalaminya. Pacaran 5 tahun. Tunangan, dan tanggal pernikahan ditetapkan. Tapi yang diatas berencana lain. Gua dan tunangan putus.
Gua pun berpacaran lagi. Seseorang yang membuat gua yakin, gua mau menghabiskan sisa umur gua ini bersama dia.
“kok bisa sih lo jadian sama dia? Dia kan Islam, duda, udah punya anak pula. Keluarga lo gimana? Keluarga dia gimana?”
Sekali lagi. Enggak ada hal yang enggak mungkin. Gua meyakini itu.
Dan. Apa yang gua udah yakin, akan gua perjuangkan. Apapun resikonya. Awalnya emang risih dengerin kabar burung yang beredar, denger omongan orang. Selalu dikatain negative.
Padahal SIAPA YANG JALANIN COBA? Semakin denger kata orang, gua semakin stress sendiri. Ok. Akhirnya gua tutup kuping. Ini idup gua. Siapa yang boleh ambil keputusan? Ya gua dong. Bukan elu.
Dan setelah 6 bulan berpacaran, kami memutuskan menikah. Ya, menikah. Dia duda satu anak, islam. Saya single dan katolik. Tau ribetnya nikah beda agama? Ya, kayak beresin utang korupsi negara. kira kira gitulah
Sebenernya bisa aja kita nikah beda agama. Tapi banyak kendala. 1.Keluarga suami gua tidak akan setuju – pernikahan akan batal. 2. Di katolik, diwajibkan meminta surat persetujuan mantan istri / harus datang. Ribet pokoknya. Keadaan tidak memungkinkan.
Akhirnya gua memutuskan membuat ktp agama islam. Secara gua udah yatim piatu. Anak tunggal. Saudara saudara udah pada jauh. Jadi ya bukan masalah besar lah ya. Tapi kalau mereka tau gua buat ktp islam, ya pasti gua cekokin nasehat2 dan dilarang nikah.
Singkatnya setelah melalui proses yang menurut gua mudah dan tidak melibatkan orang ketiga, akhirnya gua mendapat ktp agama islam. Beres. Dari sana baru kita mendaftar ke KUA dan pesen mesjid.
Ok. Pernikahan gua jauuuuuuuhhh berlawanan dari mimpi waktu kecil. Mimpi pernikahan gua itu berjalan menuju altar memakai baju putih dan slayer, di depan gua ada bridemaids yang menebar bunga. Dan di depan sana ada calon suami gua.
Dan kenyataannya, gua memakai kebaya. Ya, ternyata bahagia itu enggak harus selalu mengikuti apa yang kita impikan. Cukup selalu bersama dengan orang yang kita cintai. Titik.
Awal awal ,emang gua harus bersandiwara mengikuti tata cara agama islam. Ya namanya juga baru mau nikah, tau sendiri. Harus bisa menempatkan diri. Iya. Gua udah bisa sholat kok. Cuman sebatas enggak enak aja sama keluarga pihak sana.
Gua menikah pun diam diam. Enggak ada satu pun teman dan saudara gua yang katolik yang hadir disana. Enggak masalah lah. Yang penting pernikahan kami resmi, dan bisa hidup bersama.
Dan satu hal. Boleh aja semua orang mempengaruhi, tapi agama itu enggak bisa dipaksa. Setelah belajar sedikit tentang islam, gua merasa jiwa gua bukan disana. Daripada menjalani tapi terpaksa. Jadi sekarang kita berjalan sesuai kepercayaan masing masing. Satu rumah dua agama. Bahagia.
ohya satu hal lagi. gua enggak akan melarang larang anak gua bergaul. dia harus bisa berteman dengan siapa saja. that's for sure :)
































